TERU TERU BOZU


  • #  

    AUTHOR: Tiwi Mustar

    Teru Teru Bozu

     

    “Kau hanya perlu melawan dirimu sendiri agar harapan itu datang padamu.”-Kenzi

     

    Hujan mulai membasahi kota Bogor, kali ini lebih deras dari biasanya. Haura berdiri bersandar pada tiang besar dalam sebuah gedung yang kini dipenuhi orang-orang dengan alat-alat musik mereka yang terlihat lengkap. Sama seperti dirinya, orang-orang tersebut memasang wajah tegang danjuga meremas-remas tangan mereka. Ia memandang keluar jendela, berharap hujan akan segera reda agar ia bisa berkonsentrasi dengan permainannya hari ini.

                Beberapa orang sudah keluar dari pintu besar. Pintu yang akan segera ditutup ketika nama orang yang dipanggil memasuki ruangan di baliknya. Pintu itu akan dibuka lagi ketika mereka yang masuk menyelesaikan permainan mereka, dan bisa dilihat puluhan ekspresi mengisi wajah orang-orang itu. Haura tidak punya masalah dengan rasa percaya dirinya ketika ia berduet dengan biolanya, tapi masalah terbesarnya adalah hujan. Hujan selalu membuatnya mundur bahkan berlari dalam kondisi apapun.

                Haura menggenggam gantungan boneka putihnya—teru teru bozu, yang tergantung ditas biolanya. Dalam hati ia berdoa semoga hujannya segera berhenti, ia berharap boneka penangkal hujan itu bisa bekerja dengan baik, agar ia bisa kembali fokus pada audisinya.

                Satu menit...epuluh menit...empat puluh menit, hujan tidak memberikan Haura kesempatan untuk lebih fokus pada audisinya. Suara hujan yang semakin deras membuat tubuhnya semakin menegang.Sebentar lagi namanya pasti akan dipanggil, sementara pikirannya masih terfokus pada suara hujan.

                “Haura Rainia...!” Suara itu terdengar dari arah pintu besar yang sudah terbuka.

                Haura menyadari panggilan namanya menggema diseluruh ruang tunggu. Ia menarik napas panjang, memasukkan biolanya kedalam tas, dan berjalan melewati pintu besar ruang audisi menuju pintu keluar gedung. Ia mulai menggurutu dalam hati akan ketakutannya pada hujan.Sekali lagi, bahkan mungkin berkali-kali ia harus meninggalkan harapan besarnya karena hujan.

                Teru teru bozu, kadang tidak mampu melawan hujan yang selalu turun disaat penting seperti hari ini. Namun, ia masih tetap percaya dengan boneka putih itu.Haura masih mengantungkan harapan-harapan pada teru teru bozu-nya.

     

    l

     

                Haura berjalan pelan dipinggir jalanan kota Bogor yang masih diguyur hujan. Diatas kepalanya sudah bertengger tas biola sebagai pelindung, walaupun benda itu tidak melindunginya dari basah kuyup. Sesekali ia menendang batu-batu kecil yang dilaluinya, sebagai ekspresi kekesalannya hari ini.Ia harus menelan kegagalan bulat-bulat sebelum ia sempat berjuang.

                Tiba-tiba hujan berhenti, tetapi hanya disekitar tubuhnya. Haura menengadah, ingin tahu apa yang terjadi dengan siklus hujan disekitarnya.Apakah boneka teru teru bozu membantunya?Ternyata payung biru gelap sudah melindunginya dari tetesan air hujan dengan sebelah tangan kokoh menggenggam tangkainya.

                “Kau menyukai hujan?” Suara berat itu terdengar ditelinga Haura.Ia sempat terkejut karena lelaki itu tiba-tiba berada disampingnya.

                Lelaki itu terkekeh melihat wajah bengong Haura. “Maaf, aku tadi keluar dari swalayan dan melihatmu berjalan didepanku tanpa payung. Jadi aku menghampirimu, siapa tahu aku bisa berbagi payung denganmu.”

                Haura masih mencerna kata-kata ramah yang terucap dari lelaki itu, ia mulai berdeham, mencoba untuk tidak terdengar kaku. “Oh, aku memang sengaja menikmati hujan seperti ini.”

                “Tapi kasihan dengan biolamu.” Lelaki itu menunjuk tas biola diatas kepala Haura.

                “Tasnya terbuat dari plastik, jadi air tidak akan masuk. Lagipula aku selalu seperti ini, jadi biolaku sudah kebal juga dengan air hujan.”

                Lelaki itu tertawa pelan, suaranya terdengar merdu ditelinga Haura. “Jadi rumahmu kearah mana?”

                “Aku sedang menunggu taksi, jadi kau bisa melanjutkan perjalananmu.” Haura memutar tubuhnya menghadap jalan, menganyun-ayunkan tangannya untuk menghentikan taksi, dan taksi pertama langsung berhenti di depan mereka. “Terima kasih untuk payungnya,” katanya, tersenyum kaku.

                Lelaki itu membantu Haura membuka pintu, lalu menutupnya ketika Haura sudah duduk dikursi belakang. Haura membuka kaca jendela, tersenyum sebagai tanda terima kasih.

                “See you, Haura.” Lelaki itu tersenyum, lalu beranjak pergi meninggalkan Haura yang masih melongo dengan namanya yang tiba-tiba disebut oleh lelaki berpayung tadi.

     

    l

     

                Haura bersandar pada dinding dan berteduh di depan sebuah cafe kecil yang masih menampakkan tulisan ‘tutup’ pada daun pintunya.

    Haura mengamati boneka teru teru bozu-nya yang sudah mulai kusam, lalu menghela napas berat. Ia mungkin harus pindah dari kota hujan ini,lalupergi ke gurun.Karena kata orang disana jarang hujan, mungkin tidak sama sekali. Hari ini memang tidak ada audisi seperti beberapa hari yang lalu, tapi hari ini tetap saja hujan turun, jadi ia tidak bisa memainkan biolanya.

                “Masih dengan gaya yang sama.” Suara itu membuyarkan lamunan Haura. Disampingnya sudah berdiri lelaki tampan, memakai kaus dengan celanajins, dipinggangnya terikat celemek putih yang membuat lelaki itu terlihat sangat imut. Ternyata pintu yang masih ‘tutup’ sudah berubah menjadi ‘buka’.“Selain hujan, sepertinya kau sangat suka melamun, Haura.”

                “Tunggu...kau si lelaki payung biru itu?” Terlihat senyum lebar dari bibir Haura. Lelaki itu tersenyum, lalu mengangguk.

                “Masuklah...akan kubuatkan kopi hangat untukmu.”

                Tanpa berpikir panjang, Haura mengikuti lelaki itu masuk ke cafe mungil yang di dalamnya terlihat hangat, dengan perabot berbahan kayu bergaya klasik.

    “Apa Cafe ini milikmu?” tanya Haura ketika duduk disalah satu sofa cokelat yang menghadap jendela.

                “Iya,” jawab lelaki itu dari belakang meja bar untuk kopi.

                “Hanya sendiri? Mana karyawanmu?” Haura mengitari seisi ruangan mencari orang-orang yang ia maksud.

                Lelaki itu sudah duduk disamping Haura. “Hanya ada aku. Cafe ini hanya untuk menyalurkan hobiku kalau sedang berada disini.”

                Haura menyesap kopi yang disuguhkan padanya. “Jadi kau tidak punya pelanggan tetap?”

                “Ada, teman-temanku.” Lelaki itu tertawa. Haura jelas-jelas menyukainya.

                “Oh iya, dari mana kau tahu namaku?”

                “Aku rasa tas biolamu itu yang memberitahuku.” Lelaki itu menunjuk tas biola Haura dengan dagunya.

                Reflesks Haura melihat tas biolanya dan benar, namanya tertera disana. Ia lupa karena hal itu sudah terlalu lama.

                “Aku Kenzi,” ujar lelaki itu pendek. Haura mengangguk sebagai tanda ia sudah mengerti. “Penangkal hujan? Bukannya kau penyuka hujan?” sambung Kenzi, matanya tertuju pada boneka teru teru bozu Haura.

                “Karena dari awal pikiranmu memang salah, aku tidak pernah berharap hujan akan turun. Itu karena aku tidak bisa bermain biola saat hujan.”

                “Apakah itu semacam phobia?” tanya Kenzi dengan alis yang terangkat.

                Haura tertawa, “Mungkin lebih buruk dari itu. Aku benar-benar tidak bisa memainkan biolaku saat hujan. Kau ingat waktu pertama kali kita bertemu? Aku baru saja lari dari audisiku karena hujan.Oleh karena ituaku selalu berharap pada boneka ini.” Haura menggenggam bonekanya penuh harap.

                “Sesuatu pernah terjadi saat hujan dan bermain biola?” Kenzi semakin penasaran.

                Mata Haura menerawang sendu. “Ya...orangtuaku mengalami kecelakaan ketika menuju tempat audisiku. Saat itu hujan turun sangat deras.Aku belum sempat menyelesaikan laguku tapi pintu audisi terbuka.Aku melihat nenekkuberdiri basah kuyup dengan wajah pucat pasi. Dari situ aku tahu kalau orangtuaku sudah tiada. Setelah kejadian itu, biola dan hujan seperti mesin waktu yang selalu mengingatkanku akan saat-saat mengerikan itu.” Haura mencoba tersenyum.

                “Lalu kenapa kau tidak membuang biolamu dan melupakan semua kenangan sedihmu?”

                Haura mendesah pelan. “Bermain biola adalah jiwaku dan harapanku satu-satunyauntuk bisa masuk ke Juliard School di New York. Tapi sayangnya mereka selalu melakukan audisi di musim hujan dan tahun ini jelas-jelas aku gagal. Aku berharap tahun depan musim hujan akan datang terlambat.”

                Kenzi mengangguk mengerti.“Jadi...kapan aku bisa mendengarkan permainan biolamu?”

                “Ketika hujan tidak turun.” Haura tersenyum.

                “Baiklah, saat cuaca cerah kau harus datang kesini dan memainkan satu lagu untukku.”

     

    l

     

                Rasa dingin segera menyelimuti tubuh Haura, kepanikan membuat peluh-peluh keringat bermunculan di dahinya. Suara hujan terdengar tiba-tiba dihari yang cerah, bahkan saat matahari masih tersenyum diatas sana. Haura mulai memandangi pengunjung yang sudah siap menikmati permainan biolanya, ia meremas busur biolanya, mungkin ia akan memutuskan untuk lari lagi. Tiba-tiba Kenzi sudah berdiri di depannya dan tersenyum hangat.

                “Kau tidak akan lari lagi, kan? Aku tidak ingin mengecewakan pelangganku.Jadi aku harap kau bisa bermain bagus hari ini.Aku tahu kau bisa,” bisik Kenzi lembut.

                Wajah Haura masih terlihat cemas dan takut. Ia memandang keluar jendela—hujan. Kemudian Kenzi mengambil tas biola Haura yang berada disamping kakinya. Ia melepas gantungan boneka teru teru bozu kesayangan Haura, dan membawanya kedepan wajah Haura.

                “Mulai sekarang gantungkan ini pada hatimu, maka perasaanmu tidak pernah dibasahi oleh air hujan.Kau juga akan mendengar hujan seperti irama detak jantungmu, irama yang membuatmu selalu merasa hidup. Kau bilang biola adalah jiwamu, hiduplah kembali dengan jiwa itu dan raih harapanmu perlahan. Karena harapan tidak akan bergantung pada biola ataupun hujan, tapi harapan hidup dari hati dan usahamu untuk memeluknya. Haura, yang terpenting ada pada dirimu, bukan pada biola atau hujan yang selalu membuatmu lari dari harapan-harapanmu.Kau hanya perlu melawan dirimu sendiri agar harapan itu datang padamu.”

                Haura menggeleng kuat, airmatanya sudah mulai jatuh. “Tidak Kenzi, sudah bertahun-tahun aku mencoba untuk melawan tapi semuanya....”

                Kenzi mendesah pelan, ia lalu berjalan menuju belakang tubuh Haura. Ia menutup telinga Haura dengan kedua telapak tangannya agar Haura tidak mendengar suara hujan yang semakin deras. Sontak Haura dan pengunjung terkejut dengan tindakan Kenzi.

                “Kau bisa memulai permainanmu sekarang dan aku akan berubah menjadi teru teru bozu.Aku mungkin tidak bisa menahan hujan, tapi aku bisa menghentikan suaranya.” Kenzi tersenyum, jelas-jelas perbuatan lelaki itu membuat Haura terharu. Lalu, Haura mengangguk mantap, ia tidak boleh menunggu lama lagi, ia harus meraih kembali harapannya hari ini.

                Haura mengembuskan napas pelan, lalu meletakkan biolanya pada bahu dan siap untuk bermain. Ia mulai mengesek biolanya dengan pelan, suara yang diciptakan pun terdengar sendu, tidak semudah yang ia pikirkan.Hujan membuat kenangan pahit itu memenuhi kepalanya.Ia ingin menghentikan permainannya dan lari dari sini. Namun, ia merasakan tekanan tangan Kenzi ditelinganya semakin hangat, lama kelamaan suara hujan teredam, digantikan suara denyutan lemah nadi telinganya sendiri. Perasaannya menjadi lebih hangat, ia suka perasaan ini. Kenzi, suara biola, dan hujan menjadi satu, menciptakan suara baru dalam pikirannya.

                Ketakutan Haura berlahan-lahan pergi, ia melanjutkan permainannya dengan perasaan yang lebih ringan. Ia sangat menikmati setiap senar yang ia tekan berpadu dengan gesekan busur yang menghasilkan suara yang sangat ia inginkan. Perasaannya seperti terbang.Ia sangat menikmati permainannya hingga akhir, hingga Kenzi menatapnya dari depan dan tidak lagi menutup telinganya. Hujan semakin deras, ia terus menggesekkan busurnya yang berubah menjadi beberapa lagu secara bergantian, ia tidak ragu lagi untuk menunjukan kemampuan yang ia miliki selama ini. Saat itu juga ia yakin, harapannya telah kembali padanya.

     

    l

     

                Haura melipat kembali kertas yang tercap stempel resmi Juliard School. Ia sudah berhasil menenangkan dirinya setelah histeris beberapa menit ketika membaca surat kelulusannya. Kemudian ia membaca memo kecil dengan senyum lebar.

                Dearest, Haura Rania....

                Sebenarnya aku melihatmu lari dari audisi itu, sepertinya kau tidak sadar kalau aku yang memanggil namamu saat audisi. Setelah itu kau pasti sudah tahu kelanjutan ceritanya.Oh iya...para juri sangat terkesan dengan perjuanganmu tempo hari di cafe.

    Selamat untuk kelulusanmu....Meet you there.

                                                                            Your teru teru Bozu, Kenzi.

     

    -The End-

     

    Biodata:

    Tiwi Mustar adalah nama pena dari penulis kelahiran 11 November 1989 di Makassar, terus bermimpi bisa berkeliling dunia dengan hasil karya-karyanya. Penulis penggemar rumah kaca ini memulai langkah menulisnya awal tahun 2014, dia sudah mencantumkan namanya pada beberapa buku antologi dan berharap bisa menghasilkan karya-karya sederhana lainnya dikemudian hari.

    Contact person; FB: Arianti Pratiwi Mustar, Twitter: Tiwitwinkeli, Email: Tiwiminam@gmail.com

     

    Source Pictue: asmaisestilosasdajessica.blogspot.com


Back to previous page Index Pages Home